Kamis, 22 September 2011

ayah, aku rindu

sudah lama tidak menulis. bukan berarti hati tidak mempunyai cerita. akhir-akhir ini hanya terlalu sibuk dengan setumpuk target dan mimpi. bukan berarti aku melupa akanmu...
tidak walau mata telah terpejam...

fokus akan ekspektasi masa depan lebih baik seprti berfluktuasi di benakku. selintas senyumanmu membayangi kala jiwa mulai drop. aku hanya membalas dengan bulir-bulir bening yang pecah setelah terbendung sekian waktu. jatuh lagi....

terkadang merasa berlalri buka di arena punyaku, terkadang merasa tidak melakukan apa-apa, terkadang merasa "nothing"...
apa ini...??
dan perasaan abstrak itu makin melumer dengan luka-luka kecil akibat kerikil yang aku paksa injak saat telapakku masih basah dan lunak. sakit memang, tapi sesumbar senyummu masih bermain di pandanganku. jelas sekali...

maunya bisa teriak dan berkata "Bapa, boleh aku pinjam ayahku sebentar?"
terlalu naif untuk menghempaskan rindu hanya dalam tulisan mati di layar ini. sesekali menghapus air bening di pipi dan kembali memainkan jari.

ingin tidur di pangkuanmu sambil bercerita, sekedar menceritakan kisahku hari ini.
10 tahun lebih tanpamu tidak menghilangkan kerapuhanku serta isak pilu akan rindu..
tidak barang seberkas...

ayah, aku sedang berjuang demi dia yang kau tinggalkan, ibu..
demi mimpi kita dulu yang belum sempat terjadi..
terlalu banyak asa untuk bisa bersama, walau di kejauhan aku percaya
engkau telah bahagia..

ayah, aku ingin merangkul dan berbisik,
"aku rindu"

humft...
jatuh lagi...

hujan menemani rinduku disini...